Pena Salafy

Lezatnya Menuntut Ilmu

Ternyata …. Istilah “Ustadz” pun Jadi Masalah

Rabu, 04 Januari 2012 14:37
 

TANYA : Apakah benar tidak diperbolehkan seseorang dipanggil dengan panggilan “ustadz” dengan alasan bahwa gelar “ustadz” merupakan istilah ikhwanul muslimin yang kerap diucapkan untuk memanggil para da’i dan penuntut ilmu?JAWAB :الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن اتبع هداه إلى يوم الدين

أما بعد:

Firqah “Al-Ikhwanul Muslimun” mulai didirikan pada tahun 1347 H, atau bertepatan dengan 1920 M, melalui seorang yang berasal dari Mesir yang bernama: Hasan Ahmad Abdurrahman Muhammad Al-banna As-Sa’ati, atau yang lebih populer dengan penyebutan: Hasan Al-banna. Ia mendirikannya bersama enam pemuda di daerah Isma’iliyah.

Para pengikut Al-Ikhwanul Muslimun sangat memuliakan sosok Hasan Al-Banna, bahkan diantara mereka ada yang mensifati Hasan Al-Banna dan kelompoknya sebagai kelompok yang terbebas dari berbagai kekeliruan dan penyimpangan, seperti ucapan salah seorang dari mereka mengatakan:

إن للإخوان صرحا كل ما فيه حسن لا تسلني من بناه إنه البنا حسن

“Sesungguhnya Al-Ikhwan memiliki bangunan tinggi (Jama’ah), yang semuanya didalamnya baik

Jangan engkau bertanya kepadaku siapa yang membangunnya, Sesungguhnya Ia adalah Al-Banna Hasan.”

Para pengikutnya biasa menyebutnya dengan “Ustadz hasan Al-Banna”, kadang pula disebut dengan “Syaikh Hasan Al-Banna”, dan sering pula disebut “Al-Imam Hasan Al-Banna”, dan tidak jarang diberi gelar “Al-Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna”.

Bahkan penyebutan “Imam” lebih sering disematkan kepadanya dari penyebutan “Ustadz” atau “Syaikh”, hal ini disebabkan karena Ikhwaniyun (orang yang menisbatkan dirinya kepada Al-Ikhwanul Muslimun) ketika itu meyakininya sebagai Imam yang wajib untuk dibai’at oleh seluruh kaum muslimin.

(Lihat kitab : Al-Adhwa’ As-Salafiyah, Ummu Ayyub Nurah Bintu Ahsan,hal:15) Read more »

5 January 2012 Posted by | NASEHAT | Leave a Comment

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf


Mengapa Harus Bermanhaj Salaf

Penulis: Al Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi Al Atsari

Syariah, Manhaji, 05 – Juli – 2003, 06:07:10

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj () dan salaf (). Manhaj () dalam bahasa Arab sama dengan minhaj (), yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf (), menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55). Read more »

2 April 2010 Posted by | MANHAJ | Leave a Comment

Cara Pasang Flash di Blog | CahBorneo.Com

Cara Pasang Flash di Blog | CahBorneo.Com.

10 January 2012 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Saudaraku, Jauhilah Cara yang Haram dalam Mencari Rizki

Saudaraku seiman -semoga rahmat Allah subhaanahu wa ta’alaa selalu mengiringi kita-, ketahuilah bahwa mencari rizki yang halal diperintahkan oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa, sedangkan mencari rizki dengan cara yang haram dilarang oleh Allah subhaanahu wa ta’alaa. Semua itu tentunya demi kebaikan dan keberkahan hidup para hamba-Nya baik di dunia maupun di akhirat. Namun, ketidaksabaran seseorang atas tempaan dan ujian yang menimpanya seringkali menjerumuskannya ke dalam murka Allah subhaanahu wa ta’alaa.
Dalam hal mencari rizki misalnya; di kala seseorang sudah maksimal dalam mencari rizki dan hasilnya ternyata belum mencukupi, langkah-langkah setan lah yang akhirnya menjadi pilihan, bahkan sambil bergumam: “Mencari yang halal itu susah banget!” Atau “Mencari yang haram saja susah, apalagi yang halal!”
Wallahul musta’an.
Dengan rahmat-Nya yang luas, Allah subhaanahu wa ta’alaa mengingatkan mereka dalam firman-Nya (yang artinya):
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan; karena setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (Al-Baqarah: 168)
Demikian pula Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
أَيُّهَا النَّاسُ! إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا. وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ. فَقَالَ: {يَآ أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ}. فَقَالَ: {يَآ أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ، أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ! يَا رَبِّ! وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذلِكَ؟
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik (Suci) tidaklah menerima kecuali sesuatu yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang telah Allah subhaanahu wa ta’alaa perintahkan kepada para Rasul. Allah subhaanahu wa ta’alaa berfirman: ‘Hai para Rasul makanlah dari segala sesuatu yang baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha Mengetahui segala apa yang kalian kerjakan.’ (Al-Mukminun: 51) Dia juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman makanlah dari segala sesuatu yang baik, yang telah kami rizkikan kepada kalian.’ (Al-Baqarah: 172) Kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam Read more »

5 January 2012 Posted by | AKHLAK | Leave a Comment

Yayasan Dan Markaz Sebab Perpecahan

Sabtu, 31 Desember 2011 13:19

 Syaikhuna Rabi’ Bin Hadi Al-Madkhali Hafizhahullah Ta’ala

الحمد لله رب العالمين ، والصلاة والسلام على نبينا محمد ، وعلى آله وصحبه أجمعين ، وبعد ؛

Sungguh saya telah berkunjung kepada Syaikh dan orang tua kita yang mulia Robi’ Bin Hadi Umair Al-Madhkali -Semoga Allah menjaganya-, bertepatan pada hari Senin sore tanggal 15 Sya’ban 1432 H, dan diantara pertanyaan yang saya ajukan kepada Beliau adalah :

Pertanyaan tentang hukum mendirikan Yayasan-Yayasan Sosial, agar saudara-saudara salafiyyun di Tunisia dapat mendatangkan para ulama untuk melakukan proses pelajaran dan daurah ilmiyah ?

Maka beliaupun menjawab :

“Saya berpendapat, sesungguhnya yayasan- yayasan memecah belah salafiyyun dan menjadi sebab munculnya hizbiyah, maka nasehat saya kepada mereka agar menjauhkan diri dari yayasan-yayasan, dan sebaiknya mereka menuntut ilmu di masjid-masjid dan meninggalkan yayasan, dan saya tidak berpendapat mereka boleh masuk ke yayasan tersebut. Apabila mereka tidak mampu menjalankan proses belajar-mengajar di mesjid maka hendaknya mereka belajar di rumah-rumah mereka.”

Kemudian saya bertanya kepada beliau : Apa hukum mendirikan markaz-markaz ilmu dengan tujuan yang sama? Read more »

5 January 2012 Posted by | NASEHAT | Leave a Comment

Sikap Seorang Muslim Terhadap Hari Raya Orang-Orang Kafir

Penulis :Asy Syaikh Soleh Al Fauzan

Di negeri kaum muslimin tak terkecuali negeri kita ini, momentum hari raya biasanya dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh orang-orang kafir (dalam hal ini kaum Nashrani) untuk menggugah bahkan menggugat tenggang rasa atau toleransi –ala mereka- terhadap kaum muslimin. Seiring dengan itu, slogan-slogan manis seperti: menebarkan kasih sayang, kebersamaan ataupun kemanusiaan sengaja mereka suguhkan sehingga sebagian kaum muslimin yang lemah iman dan jiwanya menjadi buta terhadap makar jahat dan kedengkian mereka.
Maskot yang bernama Santa Claus ternyata cukup mewakili “kedigdayaan” mereka untuk meredam militansi kaum muslimin atau paling tidak melupakan prinsip Al Bara’ (permusuhan atau kebencian) kepada mereka. Sebuah prinsip yang pernah diajarkan Allah dan Rasul-Nya .

HARI RAYA ORANG-ORANG KAFIR IDENTIK DENGAN AGAMA MEREKA
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Bahwasanya hari-hari raya itu merupakan bagian dari lingkup syariat, ajaran dan ibadah….seperti halnya kiblat, shalat dan puasa. Maka tidak ada bedanya antara menyepakati mereka didalam hari raya mereka dengan menyepakati mereka didalam segenap ajaran mereka….bahkan hari-hari raya itu merupakan salah satu ciri khas yang membedakan antara syariat-syariat (agama) yang ada. Juga (hari raya) itu merupakan salah satu syiar yang paling mencolok.” (Iqtidha’ Shiratil Mustaqim hal. 292) Read more »

24 December 2011 Posted by | AQIDAH | Leave a Comment

UMAR BIN AL-KHATHTHAB

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Aku masuk ke dalam Jannah, tiba-tiba aku melihat sebuah istana dari emas. Maka aku bertanya, “Milik siapakah istana ini?” Mereka menjawab, “Milik seorang pemuda.” Maka aku menyangka bahwa akulah yang dimaksud. Maka aku kembali bertanya, “Siapakah dia?” Mereka menjawab, “Umar bin al-Khaththab.” (HR. At Tirmidzi, shahih)

Nama, Kelahiran dan Sifat Beliau

Nama beliau adalah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin Abdil ‘Uzza bin Riyah bin Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Lu’ay al-Qurasyi al-’Adawi. Kunyah beliau adalah Abu Hafsh atau Abu Abdillah.

Beliau diberi gelar oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan al-Faruq (pembeda) karena setelah beliau masuk Islam, beliau mengumumkannya secara terang-terangan sementara yang lain menyembunyikan keislaman mereka. Maka sejak saat itu terbedakan antara kebenaran dan kebatilan. Read more »

24 December 2011 Posted by | SIROH | Leave a Comment

Beda Antara “Menerima Kebenaran” Dengan “Menukil Kebenaran” Dari Selain Ahlussunnah

Dalam islam, Allah Azza Wajalla dan Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita untuk menerima kebenaran yang datang dari mana saja dan dari siapa saja, bahkan meskipun kebenaran itu dibawa oleh sosok makhluk yang disebut “setan”.

Sebab bagaimanapun juga, kebenaran yang dibawa oleh setan pada hakekatnya bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu Alaihi Wasallam. Oleh karenanya, Abu Hurairah Radhiallahu anhu tidak ragu untuk menerima kebenaran yang disampaikan oleh setan tentang anjuran membaca ayat kursi sebelum tidur, setelah mendapatkan pembenaran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan sabdanya:

صدقك وهو كذوب

“Dia telah berkata benar kepadamu padahal dia seorang pendusta besar.” Read more »

24 November 2011 Posted by | MANHAJ | Leave a Comment

Hukum Menukil Ucapan Ahli Bid’ah (Bag. 1)

Rabu, 19 Oktober 2011 00:04 Ditulis oleh: Ihab Asy-Syaafi’i Hafizhahullah

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضلّ له ومن يضّلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، أما بعد :

Telah muncul dizaman kita orang-orang yang berpendapat bolehnya menukil dari kitab-kitab Ahli bid’ah dengan alasan bahwa para Ulama salaf dahulu mereka menukil riwayat dari ahli bid’ah dan berdalil dengan ucapan tersebut dengan perkataan Imam Ibnus Salah dalam “Muqaddamahnya” dimana Beliau berkata :

( وهذا المذهب الثالث أعدلها وأولاها، والأول بعيد مباعد للشائع عن أئمة الحديث، فإن كتبهم طافحة بالرواية عن المبتدعة غير الدعاة. وفي الصحيحين كثير من أحاديثهم في الشواهد والأصول، و الله أعلم.)

“Dan mazhab yang ketiga ini adalah yang paling adil dan paling utama, mazhab pertama sangat jauh dari sikap yang masyhur dari para imam hadits, dimana kitab- kitab mereka penuh dengan periwayatan dari ahli bid’ah yang bukan da’i. Dalam shahih Bukhari dan muslim banyak sekali diriwayatkan dari hadits- hadits mereka (ahli bid’ah,pent) baik dalam syawahid maupun ushul. Wallahu A’lam.” Read more »

5 November 2011 Posted by | MANHAJ | Leave a Comment

Hukum Menukil Ucapan Ahli Bid’ah (Bag. 2)

Rabu, 19 Oktober 2011 03:55 Ditulis oleh: Ihab Asy-Syaafi’i Hafizhahullah

Berkata Syaikh Zaid Al-Madkhali dangan memberi catatan:

وقد حذر سلفنا الصالح رضوان الله عليهم ـ من النظر في كتب المبتدعة لما يترتب على ذلك من المفاسد العظيمة فإن القلوب ضعيفة والشبه خطافة ومما يؤسف له أن كثيرا من الشباب اليوم يقرؤون في كتب أهل الأهواء والضلال ويربون أنفسهم عليها ثم يعودون حربا على السنة وأهلها وحربا على منهج السلف الحق ، فإنا لله وإنا إليه راجعون

“Sungguh para ulama salaf saleh-semoga Allah meridhai mereka- telah memberi peringatan dari melihat kitab-kitab ahli bid’ah, disebabkan pengaruh yang ditimbulkan berupa mafsadah yang besar, karena sesungguhnya hati-hati itu lemah, sedangkan syubhat sangat cepat menyambar.

Yang sangat disayangkan bahwa kebanyakan dari para pemuda sekarang membaca kitab- kitab pengekor hawa nafsu dan kesesatan, dan mendidik diri- diri mereka diatasnya, lalu setelah itu mereka kembali dengan memerangi ahlus sunnah dan para pengikutnya, dan memerangi manhajus salaf yang haq. Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’uun.” Read more »

5 November 2011 Posted by | MANHAJ | Leave a Comment

Hukum Menukil Ucapan Ahli Bid’ah (Bag. 3)

Senin, 31 Oktober 2011 00:42 Ditulis oleh: Ihab Asy-Syaafi’i Hafizhahullah

Telah ditanya Syaikh Rabi’ Al-Madkhali Hafizhahullah –Beliau adalah pembawa panji al-jarah wat-ta’dil dizaman ini- dalam sebuah kaset yang berjudul “Liqaa’ ma’as salafiyyin al-falasthiniyyin”, Berikut teks pertanyaanya:

“Wahai Syaikh kami yang mulia, apakh boleh mengambil manfaat dari kitab- kitab ahli bid’ah jika ditulis sebelum mereka menyimpang, atau setelahnya namun tidak terdapat penyimpangan dan bagus dalam satu permasalahan tertentu?

Beliau menjawab: Read more »

5 November 2011 Posted by | MANHAJ | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.